08/05/09

Kepala sekolah tidak kompeten

JAKARTA, SENIN - Kepala sekolah dan pengawas sekolah di Indonesia ternyata belum sepenuhnya memenuhi enam syarat uji kompetensi. Kelemahan utama mereka terletak pada poin supervisi manajerial dan akademik yang notabene menjadi fungsi utama kedua pimpinan lembaga pendidikan tersebut.

Hal itu diungkapkan Direktur Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK), Surya Dharma, dalam jumpa pers di kompleks Gedung Depdiknas, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Senin (11/8). Surya menuturkan, ada enam syarat uji kompetensi kepala sekolah yang diadakan Ditjen PMPTK setahun yang lalu meliputi kepribadian, sosial, supervisi akademik, supervisi manajerial, evaluasi pendidikan, riset dan pendidikan. “Dua fungsi supervisi manajerial dan akademik itu justru paling lemah hasilnya. Hal ini terjadi karena pola rekrutmen kepala sekolah yang belum optimal,” katanya. Ia menambahkan, uji kompetensi itu dilakukan untuk pemetaan kualitas kepemimpinan kepala sekolah dan pengawas sekolah dari 400 kepala sekolah di lima provinsi di Indonesia. “Kami ambil sampel untuk maping dulu, ternyata hasilnya seperti itu. Ini sebagai implementasi Permendiknas No 12/2007 tentang standar kompetensi kepala sekolah dan pengawas sekolah,” jelasnya.

Pola rekrutmen kepala sekolah di daerah, dikatakannya, masih sepenuhnya dipilih oleh Bupati atau Walikota karena menerapkan otonomi daerah. “Sebenarnya hal ini tak masalah kalau rekrutmen berdasar kompetensi personel yang dipilih, bukan karena faktor politis atau sogokan uang. Ini yang harus dihindari,” ungkapnya. “Ditjen PMPTK sedang membuat pedoman seleksi calon kepala sekolah dan pengawas sekolah dengan standarisasi seperti dari proses pemilihan harus guru bergelar S1. Setelah itu melalui masa training dan dimasukkan semacam karantina. Nah, Bupati atau Walikota harus memilih personel dari karantina tersebut, bukan yang lain,” jelas Surya. Ia menandaskan, kualitas kepala sekolah dan pengawas sekolah harus diupayakan melalui seleksi yang terbuka, bersih dan transparan serta memperhatikan standar kompetensi yang telah ditetapkan.
sumber : http://nugieshare.blogdetik.com/index.php/2008/11/16/the-bossy-boss-is-at-school/
oleh : NugrohoKhoironi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar