“e-School” dan Pembelajaran Konstruktivisme
19Jun2008 Author: Hemat Dwi Nuryanto
Kompas, Jawa Barat, 19 Juni 2008
Konvergensi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berkembang sangat pesat. Ternyata hal itu tidak linear dengan kondisi sektor pendidikan khususnya di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Berbagai pihak sedang mencari jawaban terbaik untuk mengatasi masalah krisis global sektor pendidikan. Krisis semakin kentara ketika kurikulum yang diajarkan menjadi kurang bermakna karena tidak ada relevansi dengan kehidupan aktual siswa. Berulang kali UNESCO menyatakan bahwa masalah kualitas pendidikan pada saat ini sangat ditentukan oleh manajemen sekolah yang berbasis TIK. Oleh karena itu penerapan e-Sekolah diharapkan bisa menjadi solusi jitu untuk mengatasi krisis. Beberapa negara seperti Peru, Brasil, Libya dan lain-lainnya menempuh cara efektif untuk mengatasi krisis pendidikan melalui program OLPC (One Laptop Per Child) atau satu laptop untuk setiap anak. Dengan program itu para siswa dapat mengakses konten pendidikan dan khasanah Iptek secara mudah. Sebenarnya proyek OLPC sendiri sudah cukup lama digagas oleh Nicholas Negroponte dari Massachusetts Institute of Technology. Namun apa daya, ternyata masalah pendidikan yang dialami bangsa Indonesia sangat komplek. Apalagi, kondisi keuangan negara belum memungkinkan membuat program semacam OLPC. Namun demikian, program nasional seperti Jardiknas mestinya disertai peningkatan rasio penggunaan TIK di bidang pendidikan dan penerapan e-Sekolah seluas-luasnya. Paling tidak kondisinya bisa mencapai rasio satu kelas satu komputer yang disertai dengan kemampuan para guru untuk meng-upload materi ajar secara baik. Jardiknas akan sukses jika penggunaan e-Sekolah bisa meluas dalam waktu yang singkat. Penggunaan e-Sekolah bisa optimal jika ada wahana untuk berinovasi dan mengapresiasi content authoring kurikulum pendidikan.
E-Sekolah merupakan aplikasi berbasis elektronik yang membantu penyelenggara satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah (MBS) sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Aplikasi tersebut mengintegrasikan Portal Sekolah dengan layanan pembelajaran atau e-Learning service seperti Learning Management System, Content Authoring, e-Academic, e-Library, DMR, dan layanan administrasi sekolah. Proses pembelajaran pada aplikasi tersebut dibangun berdasarkan prinsip konstruktivisme yang berpotensi menjadikan guru dan murid lebih kreatif dan inovatif. Selain itu juga membuat proses peyelenggaraan sekolah menjadi lebih efisien dan modern sehingga penyelenggaraan pendidikan menjadi lebih berkualitas, murah dan transparan. Solusi e-Sekolah sebaiknya dirancang dengan memanfaatkan teknologi terkini seperti Web 2.0. Dengan tersedianya internet yang semakin hari semakin murah, maka e-Sekolah akan menjadi sebuah solusi yang praktis dan tepat guna untuk memajukan pendidikan di tanah air. Keunggulan dari e-Sekolah adalah proses belajar bisa dilakukan berdasar prinsip Konstruktivisme. Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif. Yakni tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Pada prinsipnya aplikasi e-Sekolah memiliki arsitektur yang terdiri dari Aplikasi Desktop, Aplikasi Sever dan Web Based System yang saling terintegrasi sehingga data tetap akurat, konsisten dan pengolahannya menjadi lebih efektif dan efisien.
Pendidikan yang didasari prinsip Konstruktivisme menjadikan siswa bersikap mandiri dan menemukan sendiri pengetahuan yang ia butuhkan dalam kehidupannya. Konstruktivisme berfokus pada bagaimana sikap siswa menyusun arti, baik dari sudut pandang mereka sendiri, maupun dari interaksi dengan orang lain. Dengan kata lain mereka membangun struktur kognitifnya sendiri. Tak pelak lagi, pembelajaran Konstruktivisme merupakan suatu next generation learning. Dalam tataran sosiologi, sikap mempunyai tiga komponen yaitu kognitif (berhubungan dengan ilmu pengetahuan), afektif (berhubungan dengan perasaan atau psikologis) dan psikomotoris (berhubungan kecenderungan untuk bertindak). Dalam konteks mata pelajaran IPA dan Matematika misalnya, pembelajaran harus mampu menumbuhkan sikap ilmiah (scientific attitude). Sikap ilmiah tersebut mengemuka dalam diri siswa dalam bentuk sikap ingin tahu (curiosity), kebiasaan mencari bukti sebelum menerima pernyataan (respect for evidence), sikap luwes dan terbuka dengan gagasan ilmiah (flexibelity), kebiasaan bertanya secara kritis (critical reflection) serta sikap peka terhadap lingkungan sekitar (sensitifity to living things and environment). Sikap ilmiah tersebut dapat mudah dicapai jika proses belajar mengajar IPA dan Matematika berdasarkan prinsip Konstruktivisme dan banyak melibatkan metode eksperimental. Jadi, tidak sekedar interaksi satu arah dan menekankan hafalan (rote learning) melainkan belajar yang sesungguhnya (meaningful learning).
E-Sekolah akan menjadi solusi pendidikan nasional yang sangat berarti jika berhasil memadukan unsur-unsur operasional, manajemen dan pengawasan sekolah terintegrasi dalam satu paket aplikasi. Didalamnya terdapat Content Authoring yang sesuai dengan semangat jaman dan bersifat kolaboratif. Untuk mewujudkan langkah kolaboratif diatas di kota Bandung tercipta Crayonpedia sebagai wahana Content Authoring. Wahana itu dikembangkan dari engine Wikipedia (mediawiki) yang digunakan sebagai ensiklopedi online terbesar di dunia pada saat ini. Melalui wahana itu para guru, murid dan khalayak umum dapat mengisi atau memperbaiki artikel dalam satuan pelajaran. Karena teknologi ini berbasis web, konten yang dimasukan tidak hanya bersifat teks dan gambar saja. Bisa juga memasukan suara, animasi dan video sehingga materi yang disusun menjadi lebih interaktif. Melalui wahana diatas akan tercipta suatu materi ajar yang berkualitas, menarik dan meningkatkan minat dan kreatifitas para guru dan siswa. Materi yang dikembangkan dalam Content Authoring tentu saja akan divalidasi dan diverifikasi oleh lembaga yang berkompeten. Materi yang telah diseleksi tersebut kemudian di susun kembali dan dimasukan kedalam Learning. Hasil karya para guru tersebut nantinya juga bisa dijadikan komponen nilai komulatif untuk persyaratan jenjang keprofesian guru. Ada baiknya pemerintah atau pihak swasta memberikan insentif bagi guru yang telah berkontribusi atau meng-upload karyanya. Seperti halnya rencana Google memberikan insentif berupa imbalan uang kepada siapapun yang berkontribusi dalam proyek ensiklopedia online bernama Knol.
Selain itu Crayonpedia bisa menjadi referensi kurikulum materi ajar dari seluruh kegiatan pendidikan dan lembaga pelatihan di tanah air. Referensi itu semacam Education Intelligence Tools yang menampung multikurikulum, multiprogram, dan multimateri dari seluruh penjuru dunia. Terutama dari negara maju dan negara yang belakangan ini berkembang pesat, seperti India, Cina, dan Brasil. Untuk membantu kaum difable atau tuna netra seorang pengembang teknologi Teks To Speech (TTS) DR.Arry Ahmad Rahman dari ITB sedang mengintegrasikan hasil karyanya kedalam Crayonpedia. Prinsip Education Intelligence Tools yang melekat pada Crayonpedia juga memungkinkan berbagai aplikasi mesin pencari bisa diintegrasikan. Misalnya, dalam mata pelajaran Geografi dihubungkan dengan Google Earth. Dengan layanan Google Earth yang menggunakan kombinasi pencitraan satelit, peta dan kecanggihan engine search para siswa bisa memahami Geografi lebih spektakuler. Bahkan siswa bisa menikmati tamasya ke seluruh pelosok dunia dari ruang kelasnya. Layanan Google Earth yang bisa diakses secara mudah semakin memanjakan pikiran dan daya imajinasi siswa untuk lebih memahami pelajaran Geografi. Sehingga bidang keilmuan itu tidak lagi sebatas menghafal nama kota, sungai, gunung dan obyek lainnya. Dengan berbagai sistem navigasi dan fitur yang disediakan oleh Google Earth para siswa bisa bertamasya diatas ketinggian langit sambil terbang menelusuri kulit bumi. Mereka bisa melihat langsung lingkungan sekolahnya dari ketinggian hingga ribuan feet.
sumber :
http:// hdn.zamrudtechnology.com/2008/06/19/e-sekolah-pembelajaran-konstruktivisme/
Hemat Dwi Nuryanto
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar