08/05/09

Pembelajaran Aktif

Triyanta
Kelompok Keilmuan Fisika Teoretik Energi Tinggi dan Instrumentasi-FMIPA-ITB
Bandung 40132, Indonesia
Alamat email: triyanta@fi.itb.ac.idtriyanta@fi.itb.ac.id

Pembelajaran aktif

Metode pembelajaran aktif (active learning method) diperkenalkan setelah banyak kalangan guru dan dosen merasakan ketidakpuasannya terhadap pemahaman siswa/mahasiswa terhadap materi ajar. R. A. Millikan, seorang fisikawan pemenang hadiah nobel yang terkenal dengan percobaan titik minyaknya termasuk di antara fisikawan yang sangat peduli dengan proses belajar-mengajar. Ia tidak puas dengan keadaan umum perkuliahan yang ia amati di Eropa dan di Universitas Columbia, tempat ia mengajar, pada masa itu [1,2]. Pengalaman yang sama dialami David Bligh [2,3] dan Ohmer Milton [2,4]. Berdasarkan penelitian terhadap dampak perkuliahan pada 200 kelas yang ia teliti, Bligh mendapatkan kesimpulan bahwa kuliah hanya baik untuk memberikan inspirasi dan mentransmisikan informasi, namun tidak efektif untuk mengajarkan konsep. Milton menjumpai bahwa separuh mahasiswanya yang dipilih secara acak untuk tidak mengikuti kuliah memperoleh prestasi yang sama baik dengan mahasiswa yang mengikuti kuliah. Meskipun penelitian-penelitian di atas dilakukan pada tingkat pendidikan tinggi namun kami yakin bahwa kesimpulan serupa akan diperoleh apabila penelitian yang sama dilakukan pada tingkat pendidikan menengah atas.

Mungkin ada pengajar yang menganggap bahwa semua pembelajaran secara inherent sudah bersifat aktif. Artinya, siswa yang menyimak apa yang disampaikan pengajar sudah dipandang sebagai siswa yang aktif. Namun kenyataan menunjukkan bahwa hanya mendengarkan saja itu tidak cukup[5,6]. Siswa juga harus membaca, menulis, berdiskusi, dan memecahkan soal. Jadi agar terlibat secara aktif siswa harus dibawa ke dalam proses berpikir tingkat lanjut, yaitu analisis, sintesis, dan evaluasi [6]. Pembelajaran yang membawa siswa untuk melakukan tindakan yang lebih dari sekedar mendengarkan [5,7,8,9], namun melakukan kegiatan-kegiatan seperti menemukan, memproses, dan memanfaatkan informasi [7], dinamakan pembelajaran aktif (active learning). Jadi Pembelajaran aktif tidak sekedar membuat siswa sibuk beraktivitas, namun membuat siswa berpikir tentang proses pembelajaran yang mereka alami [9,10]. Menurut L. Dee Fink [11], dalam pembelajaran aktif siswa harus mendapatkan pengalaman melakukan (do) sesuatu dan mengamati (observe) sesuatu dan melakukan diskusi dengan diri sendiri dan dengan siswa lain tentang apa yang diperoleh dari pengalaman tersebut. Jelas bahwa dalam pembelajaran aktif pengajar berperan sebagai fasilitator dan tanggung jawab siswa tidak hanya terbatas pada apa yang harus mereka pelajari namun juga bagaimana mereka mempelajarinya [12]

Bonwell dan Eison [6] menyatakan bahwa pembelajaran aktif memiliki lima karakteristik: (1) kelas pembelajaran aktif bukan kelas dengan siswa sekedar mendengarkan, (2) kurang menitikberatkan pada alih informasi, namun lebih pada pengembangan kemampuan (skill) siswa, (3) melibatkan tingkatan proses berpikir yang lebih tinggi yaitu analisis, sintesis, dan evaluasi, (4) siswa aktif dengan kegiatan membaca, berdiskusi, dan menulis, (5) perhatian pada eksplorasi tatanilai dan sikap siswa.

Ada sejumlah usulan strategi untuk melaksanakan pembelajaran aktif [7,12,13,14]. Usulan-usulan itu dikumpulkan dalam Lampiran 1. Tentunya tidak semua strategi cocok untuk suatu jenis matakuliah/matapelajaran tertentu. Tulisan ini mencoba mengusulkan proses pembelajaran aktif dengan strategi sebagaimana disampaikan dalam [2].

Pembelajaran aktif untuk fisika secara umum

Fisika merupakan salah satu bagian dari ilmu pengetahuan alam. Konsep-konsep dasar dan prinsip-prinsip dasar di dalam fisika, atau umumnya ilmu pengetahuan alam, diungkapkan secara kuantitatif dalam bentuk abstraksi matematik. Hal ini yang membuat kebanyakan pengajaran fisika lebih menekankan pada pemberian rumus-rumus fisika. Fisika menjadi tampak sangat abstrak, jauh dari realitas. Siswa mengalami kesulitan dalam mengaitkan atau menginterpretasikan ungkapan matematika dari suatu hukum fisika dengan realitas fenomena alam. Akhirnya, matapelajaran fisika menjadi salah satu matapelajaran yang dipandang sulit untuk kebanyakan siswa.

Agar matapelajaran fisika menjadi lebih menarik dan lebih mudah dipahami maka pembelajaran fisika harus dilakukan dengan cara tidak seperti sebagaimana diungkapkan di atas. Siswa sebaiknya dibawa ke esensi fisika itu sendiri, yaitu pemahaman gejala alam. Untuk itu siswa harus mengalami proses pembelajaran aktif dengan dibawa kepada suatu proses menemukan. Rumus-rumus fisika ditemukan oleh siswa, tidak diberikan oleh guru. Untuk itu maka pembelajaran aktif harus dilakukan dengan mengandung unsur-unsur sebagai berikut [2]:

1. Prediksi
2. Observasi
3. Refleksi
4. Teori
5. Aplikasi

Proses pembelajaran ini kebanyakan memerlukan sejumlah peralatan demonstrasi yang memungkinkan pengukuran dapat dilakukan. Pada tahap awal, menjelaskan demonstrasi yang akan dilakukan dan melakukan sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan demontrasi. Selanjutnya, dalam dua-tiga menit, setiap siswa diminta untuk memprediksi apa yang akan terjadi (misalnya dalam demontrasi rangkaian listrik sederhana, siswa diminta memprediksi terang tidaknya nyala sebuah lampu) berikut alasannya. Hasil prediksinya kemudian didiskusikan bersama dalam kelompok 3-5 siswa untuk menghasilkan prediksi kelompok. Diskusi saling beradu argumentasi atas prediksi masing-masing siswa akan membawa ke pengenalan lebih mendalam tentang fenomena yang sedang menjadi perhatian. Selanjutnya setiap kelompok menyampaikan prediksi dan alasannya.

Langkah selanjutnya adalah guru melakukan demonstrasi atau percobaan dan semua siswa melakukan pengamatan/observasi dan mencatat hasil pengamatannya. Dari pengamatan, siswa dibawa untuk menarik sebuah kesimpulan hasil pengamatan. Karena observasi adalah hakim tertinggi dalam ilmu pengetahuan maka tentunya kesimpulan tersebut (selama semua proses menuju kesimpulan benar) harus disepakati sebagai kenyataan yang benar. Berikutnya adalah mendiskusikan atau membandingkan antara prediksi awal dan kesimpulan hasil percobaan. Siswa yang mempunyai prediksi salah akan memahami kenapa prediksinya salah. Kesimpulan di atas dapat dibawa ke bentuk ungkapan matematis sehingga siswa merasakan “menemukan” sebuah teori atau prinsip fisika. Tahap akhir dari metode ini adalah memberikan kepada siswa sejumlah contoh aplikasi yang berkaitan dengan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang berkaitan dengan observasi di atas. Perlu dicatat bahwa percobaan ini dapat dilakukan hanya oleh guru, mungkin dibantu oleh sejumlah siswa, maupun, jika memungkinkan, oleh beberapa kelompok siswa yang dilakukan secara bersamaan.

Metode di atas dapat dilakukan baik untuk kelas kecil maupun kelas besar. Penerapan metode ini mungkin membuat situasi kelas menjadi gaduh. Namun ini tidak menjadi masalah selama kegaduhan tersebut adalah dalam rangka proses pembelajaran.

sumber : http://ganeshana.org/index.php?option=com_content&task=view&id=17&Itemid=3
oleh : Triyanta
Kelompok Keilmuan Fisika Teoretik Energi Tinggi dan Instrumentasi-FMIPA-ITB
Bandung 40132, Indonesia
Alamat email: triyanta@fi.itb.ac.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar