08/05/09

Konversi Nilai Bukan Penentu Kelulusan

SEBAGAI dosen evaluasi pendidikan, saya ingin menjelaskan penggunaan konversi yang kini hangat dibicarakan. Rupanya konversi belum banyak dipahami masyarakat terutama di kalangan pendidikan.

Untuk memudahkan penggunaan konversi, bisa diingat proses penyamaan skala atau konversi alat pengukur suhu yang didasarkan pada konversi rumus standar, misalnya skala pengukuran: Celcius (titik awal 00 titik didih 1.000), Reamur (titik awal 00 titik didih 800), Fahrenheit (titik awal 320 titik didih 2.120), Kelvin (titik awal 2.370 titik didih 3.730).

Keberadaan skala ini tidak bisa dikatakan bahwa orang yang menggunakan skala pengukuran Celcius dan Reamur akan selalu dirugikan karena keduanya memiliki nilai 0 sampai dengan 4 (bila acuan kriterianya 4,01), sedangkan yang menggunakan Fahrenheit dan Kelvin selalu diuntungkan karena titik awalnya 32 dan 237.

Demikian pula dengan konversi nilai dalam ulangan atau ujian. Guru, dosen, atau panitia ujian mau menggunakan konversi yang mana. Dalam ilmu pengukuran, konversi dapat disusun melalui konversi biasa dan konversi yang terkalibrasi dengan model respons butir. Apabila UAN atau UAS sudah mempergunakan konversi model respons butir, semua nilai siswa harus mengacu pada model konversi ini, tidak dibandingkan konversi lain.

Konversi lain/biasa (model pengukuran klasik) biasa dipergunakan guru, yaitu untuk memperoleh nilai murni siswa bila menghendaki skor maksimum 10. Rumus (skor perolehan:skor maksimum) x 10 dan bila menggunakan skor maksimum 100 dipergunakan nilai konversi dengan rumus (skor perolehan : skor maksimum) x 100 atau bila menggunakan skor maksimum 4 dipergunakan nilai konversi dengan rumus (skor perolehan : skor maksimum) x 4.

Konversi seperti ini memiliki dua kelemahan. Pertama, setiap butir soal dihitung memiliki tingkat kesukaran yang sama. Artinya siswa mana pun yang menjawab benar 40 dari 50 butir soal dalam satu tes, siswa bersangkutan akan memperoleh nilai 8 (untuk konversi skor maksimum 10), 80 (konversi skor maksimum 100); 0,2 (konversi skor maksimum 4).

Kelemahan kedua adalah bahwa tingkat kesukaran butir soal tidak dikalibrasi pada skala yang sama. Artinya butir-butir soal tidak disusun berdasarkan tingkat kesukaran dan kemampuan siswanya sehingga model konversi ini belum bisa menentukan nilai murni siswa.

Seharusnya hanya siswa yang memiliki kemampuan tinggi (misal skala kemampuan 1, kemampuan 2, atau kemampuan 3) yang dapat menjawab benar semua soal dalam tes pada skala yang bersangkutan atau tingkat kesukaran butir (mudah, sedang, sukar) sesuai dengan kemampuan siswa.

Apabila sekolah mempergunakan konversi biasa seperti ini justru akan merugikan siswa yang memiliki kemampuan tinggi. Apalagi butir soalnya belum/tidak divalidasi, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Tesnya langsung menghakimi siswa (naik/tidak naik, lulus/tidak lulus).

KONVERSI yang terkalibrasi adalah konversi nilai yang disusun berdasarkan kemampuan siswa dari tingkat kesukaran butir soal yang terkalibrasi dengan model Rasch (Item Response Theory).

Untuk memahami model terkalibrasi ini diperlukan pengertian berikut. Setiap jumlah jawaban benar soal, misal 1 sampai 50, masing-masing butir memiliki tingkat kemampuan atau "abilitas" (untuk teori klasik tidak ada). Abilitas ini diperoleh dari rumus model Rasch P = [e (?-d)] : [1 + e (?-d)]. P adalah peluang menjawab benar satu butir soal. e = 2,7183, ? = tingkat kemampuan siswa, dan d = tingkat kesukaran butir soal. Kemudian nilai abilitas (misal -3,00 sampai dengan +3,00) ditransformasi ke dalam skala 0-10, 0-100, atau 0-4.

Misalnya untuk dapat ditransformasi ke dalam skala 0-100 diperlukan nilai rata-rata 50 dan standar deviasi 5, sehingga untuk membuat tabel konversi mempergunakan rumus Y = 50 + 5X. Y =nilai siswa dan X adalah nilai abilitas. Dengan rumus inilah konversi terkalibrasi dapat disusun.

Konversi yang terkalibrasi skalanya didasarkan pada dua hal penting, yaitu tingkat kesukaran soal dan tingkat kemampuan siswa. Soal ditempatkan pada tingkat kesukaran dan kemampuan siswa yang telah disamakan skalanya.

Bila tes sudah disamakan skalanya, siapa pun yang mengambil tes pada paket yang mudah, sedang, dan sukar, masing-masing tes masih berada pada skala yang sama dan bisa dibandingkan. Oleh karena itu, tes yang diberikan kepada siswa sudah selayaknya sesuai dengan tingkat kemampuan siswanya.

Apabila kemampuan siswa dalam memahami materi yang diajarkan guru itu tinggi (sudah tercapai target kompetensinya), peluang menjawab benar soal pasti tinggi. Sebaliknya, bila kemampuan siswa dalam memahami materi yang diajarkan guru itu rendah (belum tercapai target kompetensinya), peluang menjawab benar soal pasti rendah. Apakah tesnya berbentuk tes lisan, tertulis (soalnya berbentuk pilihan ganda, uraian, isian, dan lain-lain), atau perbuatan.

Inilah keunggulan penggunaan model Rasch, yaitu bahwa: (1) siswa dapat diskor pada skala yang sama, (2) skor siswa dapat dibandingkan pada dua atau lebih bentuk tes yang sama, (3) semua bentuk soal memperoleh perlakuan melalui cara yang sama, (4) tes dapat disusun sesuai keahlian berdasarkan tingkat kemampuan yang akan dites.

Namun, untuk tes klasik tidak memiliki dasar teori untuk menentukan bagaimana siswa memperoleh tes yang sesuai dengan kemampuannya.

Jadi, konversi nilai bukan penentuan kelulusan atau mengatrol nilai melainkan penyamaan skala. Pertanyaannya sekarang, penentuan batas nilai minimal 4,01 dalam UAN itu didasarkan pada konversi yang mana? Konversi biasa atau konversi terkalibrasi?

Untuk menentukan nilai murni siswa yang sebenarnya dan mewujudkan keadilan diharapkan UAN mempergunakan konversi terkalibrasi bukan konversi biasa.

sumber : http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0407/02/humaniora/1125896.htm
Safari Dosen Evaluasi Pendidikan FKIP Universitas Islam Asy-syafiiyah (UIA) Jakarta, Alumni Pittsburg University, USA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar