07/03/09

^^MANAJEMEN PEMBELAJARAN part 4^^

Kompas. Senin, 30 September 2002

Pembelajaran yang Demokratis

PEMBELAJARAN yang demokratis adalah pembelajaran yang di dalamnya terdapat
interaksi dua arah antara guru dan siswa. Guru memberikan bahan
pembelajaran dengan selalu memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif
memberikan reaksi, siswa bisa bertanya maupun memberi tanggapan kritis
tanpa ada perasaan takut. Bahkan, kalau perlu siswa diperbolehkan
menyanggah informasi atau pendapat guru jika memang dia mempunyai informasi
atau pendapat yang berbeda. Hasil belajar pada dasarnya merupakan hasil
reaksi antara bahan pelajaran, pendapat guru, dan pengalaman siswa sendiri.

Dalam pembelajaran, siswa betul-betul sebagai subyek belajar. Bukan sebagai
botol kosong yang pasrah untuk diisi dengan berbagai ilmu oleh guru. Saat
sekarang, rasanya pembelajaran yang demokratis cukup mendesak untuk
diimplementasikan di kelas, setidaknya berdasarkan tiga alasan.

Pertama, kenyataan bahwa guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Dalam
era globalisasi informasi sekarang, tidak bisa dimungkiri, akses terhadap
berbagai sumber informasi menjadi begitu luas: televisi, radio, buku,
koran, majalah, dan Internet. Saat berada di kelas, siswa telah memiliki
seperangkat pengalaman, pengetahuan, dan informasi. Semua ini bisa sesuai
dengan bahan pelajaran, bisa juga bertentangan. Pembelajaran yang
demokratis memungkinkan terjadinya proses dialog yang berujung pada
pencapaian tujuan instruksional yang ditetapkan. Tanpa demokrasi di kelas,
guru akan menjadi penguasa tunggal yang tidak dapat diganggu gugat. Siswa
terkekang, dan akhirnya potensi kreativitasnya terbunuh.

Kedua, kompleksnya kehidupan yang bakal dihadapi siswa setelah lulus. Masa
depan menuntut mereka mampu menyesuaikan diri. Prinsip belajar yang relavan
adalah belajar bagaimana belajar (learning how to learn). Artinya, di kelas
target pembelajaran bukan sekadar penguasaan materi, melainkan siswa harus
belajar juga bagaimana belajar (secara mandiri) untuk hal-hal lain. Ini
bisa terjadi apabila dalam kegiatan pembelajaran siswa telah dibiasakan
untuk berpikir mandiri, berani berpendapat, dan berani bereksperimen.

Ketiga, dalam konteks pendidikan demokrasi masyarakat. Sebagai bagian dari
anggota masyarakat, siswa hendaknya sejak dini telah dibiasakan bersikap
demokratis, bebas berpendapat tetapi tetap dalam rule of game. Ini bisa
dimulai di kelas dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang menekankan adanya
demokrasi. Bagaimana kita bisa berharap kelak mereka akan menjadi penyokong
demokratisasi kalau di sekolah tidak mendapatkan pengalaman berdemokrasi?

***

KETIGA alasan di atas tampaknya cukup signifikan untuk memberikan
rekomendasi tentang perlunya penerapan pembelajaran yang demokratis di
kelas. Hanya saja, harus diakui ada beberapa kendala yang perlu diatasi.

Dari pihak guru, kendala lebih bersifat psikologis. Bagaimanapun, selama
ini guru telah tercitrakan sebagai orang yang serba tahu dan serba mampu.
Bahkan, ada ungkapan, guru itu digugu dan ditiru. Ini menempatkan guru pada
posisi superior-di atas siswa.

Guru memang harus berwibawa baik secara akademik maupun moral, tapi bukan
berarti harus berlaku diktator dan otoriter. Harus ada perubahan paradigma,
guru sekarang tidak harus serba tahu dan serba mampu karena hal itu memang
mustahil. Yang penting, guru harus bisa menjadi fasilitator dan motivator
sehingga siswa dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Untuk bisa
mengubah paradigma ini, guru harus menyadari bahwa wibawa tidak akan lenyap
dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreativitas.
Bukankah justru wibawa guru akan terangkat bila ia mampu menampilkan
performa sebagai guru yang egaliter, bisa diajak diskusi, terbuka, dan
demokratis.

Sementara dari pihak siswa, kendalanya adalah belum adanya keberanian untuk
berpendapat. Selama ini mereka telah terkondisi untuk pasif, menerima apa
pun informasi dari guru tanpa kritik. Kondisi ini harus diubah dengan cara
mendorong mereka menyampaikan gagasan dan menghargainya. Apa pun pendapat
siswa, guru harus bisa memberikan apresiasi secara positif. Melalui
penghargaan dan apresiasi secara positif terhadap siswa, diharapkan
berangsur-angsur siswa terbiasa berpikir aktif dan berani mengemukakan
pendapatnya di kelas.

MULYOTO Guru SMK Negeri 1 Pungging, Mojokerto


sumber : http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/2693

Tidak ada komentar:

Posting Komentar